Peluang BI Turunkan Bunga Acuan Menanti Kabar dari The Fed
Deflasi pada Agustus lalu memberi ruang bagi BI menurunkan suku bunga acuannya kembali pada September ini ke level 4,25%.
Alhasil, inflasi tahun kalender Januari-Agustus atau year to date (yod) 2017 mencapai 2,35% dan inflasi tahun ke tahun Agustus 2017 (year on year /yoy) sebesar 3,82%. BPS pun memperkirakan inflasi hingga akhir tahun akan terkendali di bawah 4%.
Kepala Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN) Winang Budoyo melihat, deflasi Agustus memberi ruang bagi BI menurunkan suku bunga acuannya kembali pada September ini ke level 4,25%. BI pun kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuan di level ini sampai semester 1-2018.
Dalam RDG Agustus lalu, BI menurunkan suku bunga BI 7-DRRR sebesar 25 basis poin menjadi 4,5% dari 4,75%. Dengan besaran yang sama, suku bunga deposit facility juga diturunkan menjadi 3,75% dan lending facility menjadi 5,25%. Itu pertama kali BI menurunkan suku bunga acuan sejak 11 bulan terakhir. Bank sentral terakhir kali menurunkan suku bunga acuan pada Oktober tahun lalu dari 5% menjadi 4,75%.
Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih menilai, kebijakan Agustus lalu itu bermakna BI mengubah sepenuhnya arah kebijakan moneter dari akomodatif menjadi bias longgar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Karena itu, terbuka kemungkinan BI akan kembali menurunkan suku bunga sebagai sinyal pelonggaran moneter berkelanjutan.
Pemangkasan suku bunga acuan beberapa kali lagi hingga akhir tahun nanti juga punya peran mengefektifkan penurunan bunga kredit perbankan. Tahun lalu, BI enam kali menurunkan suku bunga acuan.
Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution melihat perlambatan ekonomi yang saat ini melanda Indonesia memang bisa mendorong BI menurunkan kembali bunga acuan. Ia sebelumnya mengeluh, BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus lebih aktif lagi mendorong perbankan menurunkan suku bunga kredit.
Awal September lalu, Presiden Joko Widodo memanggil Gubernur BI Agus Martowardojo dan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso. Jokowi mengulangi permintaannya agar BI dan OJK aktif mendorong penurunan suku bunga kredit perbankan.
Akhir Agustus lalu, Jokowi juga mengundang Gubernur BI dan Ketua Komisioner OJK ke Istana dan meminta otoritas moneter membantu meningkatkan pertumbuhan lewat kebijakan moneter.
Namun, menurut Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo, peluang penurunan suku bunga tetap terbuka jika inflasi dan nilai tukar ke depan terjaga. Indikator faktor eksternal dari Amerika Serikat (AS) memang akan mempengaruhi kebijakan BI.
Rabu ini waktu setempat, bank sentral AS atau The Federal Reserve akan memutuskan apakah akan menaikkan suku bunga. The Fed sudah dua kali menaikkan suku bunga acuan tahun ini dan berencana menaikkannya sekali lagi pada September ini.
Selain itu, The Fed berencana meringankan neracanya dengan menjual obligasi yang diborongnya saat menjalankan kebijakan quantitative easing.